Jumat, 5 Juli 2019
Predikat pondok bukanlah akhir dari segalanya. Persepsi orang awam mengenai frasa 'pondok' selalu menjerumus ke hal - hal yang berbau tradisional dan tidak bisa berbaur dengan berkembangnya teknologi. Anggapan tersebut tentunya bisa disanggah dengan mudah. Kami para santri pastinya tidak kalah update dengan perkembangan teknologi jaman sekarang. Apalagi tidak kalah dalam hal pengaplikasiannya terhadap kehidupan bermasyarakat.
Salah satu masalah yang umum dihadapi oleh para siswa pasca wisuda adalah memilih jalur masa depan yang paling tepat. Triyono, 23 tahun, angkatan ke-17 SMA Ar-Rohmah, juga mengalaminya. Berbagai rintangan telah ia hadapi, dari pencurian, gonta-ganti pekerjaan, dan lain - lain. Akan tetapi, beliau masih ada secercah harapan dengan bidang yang ia tekuni, wirausaha.
Memang, dari SMA, Triyono sudah gemar berjualan kepada teman seperjuangannya. Meski larangan akan berjualan, tidak menghalanginya untuk memenuhi bidang yang ia tekuni. Apalagi dengan teknologi yang seecara pesat berkembang, beliau belajar dan mengaplikasikannya. Beliau menekuni bidang Advertisements dan Kerjasama. Dengan memasarkan apa saja yang dia bisa temui, Triyono bisa meraih secercah uang. Bukan secercah lagi, bertumpuk - tumpuk lembaran hijau malah.
Pada awalnya, beliau mondok lagi di Badrussalam di Magetan, setelah mendapatkan saran dari pamannya. Yang sebelumnya beliau bertekad untuk kuliah, dimana sebelumnya tidak. Disana, beliau lebih menekuni dan mengembangkan pengaplikasian internet terhadap marketing, yakni telemarketing. Di mulai dari sebuah web yang ia kembangkan, hampir 6 bulan lamanya. Dengan 150.000 pegunjung tiap harinya, web tersebut dibeli dengan harga Rp. 200.000.000,00- oleh perusahaan Dubai. Dari situlah semuanya dimulai.
Setelah menekuni 2 hal tersebut dan menjual web yang beliau kembangkan, web baru pun dibuat. Lalu, banyak kerjasama serta koneksi dengan teman seangkatannya dilakukan. Bersama teman - temannya, beliau membuat suatu 'basecamp', dengan tujuan agar lebih memfokuskan diri terhadap pekerjaan yang mereka tekuni. Mereka tidak hanya menargetkan pengguna dari skala nasional, namun juga dari skala internasional dengan pemasokan tertinggi. Semua teman - temannya memiliki target untuk mendapatkan $3000 per bulannya. Target itu pun suatu hal yang mudah bagi mereka semuanya dalam hal telemarketing.
Tidak lepas dari ibadah yang beliau selalu lakukan, makin banyaknya godaan akan status bujang membuat keimanannya goyah. Untuk mengatasi hal tersebut, beliau bertekad untuk menikah diumurnya masih 22 tahun, dengan omset perbulannya yang ia peroleh ialah Rp. 60.000.000,00-. Teman - teman yang jarang kontak dengannya pun terheran - heran akan keberanian beliau. "Kamu emangnya kerja apa? Mau memberi makan istrimu apa?" tanya teman - temannya serta petugas di KUA. Mereka belum tahu apa yang telah ia kerjakan.
Hingga sekarang, beliau sudah memiliki penghasilan lebih dari 1 Milyar dengan memasarkan bergabai jenis produk, termasuk properti. Beliau berpesan "Yang terpenting bagi kalian ialah jangan pernah lupa jasa - jasa para asatidz yang telah membimbing kalian disini. Karena kesuksesan apa pun yang kalian raih kedepannya, pasti ada sesosok guru ditengah - tengah itu semua. Juga tekunilah ibadah - ibadah yang kalian lakukan di pondok. Kalau tidak bisa semuanya, setidaknya ada ibadah yang jadi ciri khas kalian. Misalnya, dari dulu selau shalat dhuha, istiqomahkan hingga nanti. Yang terpenting ialah istiqomah aja." Ucapan beliau membuat para ustadz yang hadir merasa terharu.
Demikianlah, yang bisa kami sampaikan pada kesempatan kali ini. Banyak sekali hal menarik yang bisa dipetik dari alumni SMA kami yang pada kesempatan kali ini mengisi tauziah akan "Bagaimana Caranya Mendapatkan Uang Secara Online?"Para santri yang sekarang mondok diluar sana, jangan minder. Juga jangan patah semangat. Karena, banyak sekali para pemuda - pemudi yang juga santri yang bisa menjadi contoh kesuksesan yang ada. Syukron.
0 Komentar